Sebelum saya mengenal VPS atau server, saya biasanya menggunakan hosting untuk mengupload website saya.

Sisi positifnya adalah dengan hosting kita tidak perlu setup berbagai hal, karena semuanya sudah ada di cPanel. Mulai dari FTP, Database MySQL, PHP, DNS Management, SSL dan masih banyak lagi.

Sampai suatu hari, saya membuat website dns management yang mana diperlukan penginstalan third party melalui command line. Tentu saja shared hosting tidak mengakomodir hal ini. Mau tidak mau saya harus mulai menyewa VPS.

Awal mula saya menggunakan VPS, saya mencoba untuk menginstall cPanel. Namun sayangnya biaya lisensinya sangat mahal. Akhirnya saya mencari control panel lain yang gratis.

Lalu saya menemukan VestaCP. Selain gratis ternyata cara setupnya sangatlah mudah. Jadi, mulailah saya jatuh hati dengan VestaCP. Setiap saya setup server, pasti selalu pakai VestaCP.

Kemudian beberapa tahun terakhir saya mulai mempelajari NodeJS dan ternyata saya mulai menyukainya. Dan setelah saya mempelajari tutorial untuk mendeploy aplikasi / website berbasis NodeJS, saya merasa VestaCP tidak cocok sama sekali.

Akhirnya semenjak saat itu, saya mulai menggunakan VPS tanpa Control Panel dan menginstall semua kebutuhan secara manual hingga saat ini.

Kabar baiknya adalah saya lebih mengerti bagaimana server linux bekerja. Dan saya juga menyadari bahwa RAM di server akan lebih lega jika kita hanya menginstall service sesuai kebutuhan.

Itulah pengalaman saya berpindah dari shared hosting yang serba siap pakai menuju VPS yang di manage sendiri.